Home  /  Tentang kita  / Belajar Bahagia dari Singkatnya Usia..

Belajar Bahagia dari Singkatnya Usia..


Belajar Bahagia dari Singkatnya Usia..

Hidup itu Terlalu Singkat, Berbahagialah.

 

Ketika saya berturut-turut mengurus anak kemudian suami yang sakit ke rumah sakit, saya jadi sering merenung. Betapa manusia itu  mahkluk yang lemah. Bahwa usia manusia berada dalam genggaman Allah. Dan usia manusia hidup di bumi ini teramat singkat.

Setiap kali saya melihat pasien lanjut usia, hati saya bergetar. Mereka sering kali pergi ke rumah sakit tanpa kerabat. Ada yang berdua dengan suami atau istrinya dan ada yang hanya sendiri. Ada yang masih gagah berjalan, ada pula yang sudah gemetar kala melangkahkan kaki. Perih rasa hati saya. Belum lagi melihat mereka harus antri di setiap pelayanan.

Seketika lamunan saya berkelana ke puluhan tahun silam. Kala nenek dan kakek saya masih hidup. Bahagia sekali mengingat kakek bersafari biru muda dan mengendarai sepeda onthel mengajak saya mengambil uang pensiun di Kantor Pos. Tersenyum kala mengenang nenek yang saban sore meminum kopi kental berteman gula merah. Saya sering menemaninya membersihkan beras dari gabah.

Hikmah-hidupSelalu ada senyum dan tawa. Kasih sayang mereka masih saya rasakan hingga sekarang. Hingga akhirnya air mata menetes mengingatkan saya tentang kepergian mereka bertahun-tahun lalu. Rasanya masih seperti kemarin saja. Oh ya Allah, betapa singkatnya waktu, batin saya.

Setiap kali saya merenung panjang, setiap kali itu juga saya tersentak teringat akan umur yang terus merambat. Kemarin masih masuk usia 20-an rasanya. Tiba-tiba sudah berakhir usia 30-an. Saya mulai berhitung tentang jatah hidup. Rata-rata usia manusia hidup saat ini berkisar hingga 60 – 75 tahun. Masya Allah, tinggal sebentar jatah hidup saya. Dan tiba-tiba, Si Babeh mengingatkan, “PD amat. Memangnya yakin umur kita bisa sampai umur 60.”

Kalimat pengingat yang menohok. Iya, bagaimana jika umur saya sangat singkat. Rasanya ingin berlari saja, teringat banyak hal yang belum saya lakukan dan banyak keinginan yang belum terpenuhi. Kepala saya penuh dengan hal-hal itu saja. Tanpa sadar saya mulai menyesali usia yang kian bertambah. Gelisah dan sedih saya bertumpuk-tumpuk.

Setelah sekian lama merenung, akhirnya saya berdamai dengan diri saya sendiri. Bagaimana jika cara berpikirnya dibalik. Usia boleh saja bertambah tua tetapi energi berbanding terbalik. Tetap selalu merasa muda. Semangat kembali menjadi muda. Istilahnya reborn, terlahir kembali. Seperti tunas pohon yang siap menyapa dunia. Konsep berpikir seperti yang kita butuhkan kala kelesuan melanda. Semacam pemantik semangat agar kembali menyala.

Bertambah usia bukan halangan untuk menjadi lebih energik.  Tambah semangat melakukan hal-hal kebaikan. Tambah bahagia menjalankan hidup. Segala ujian derita, cobaan hidup kita jalani dengan ikhlas. Untuk apa bersusah hati. Toh, hidup di dunia paling banter tinggal dua atau tiga puluh tahun, itu kalau beruntung. Lha, kalau tinggal hitungan hari, hitungan menit, atau hitungan detik. Sangat merugi jika hati kita tidak selalu diisi dengan keikhlasan.

Hanya satu yang bisa kita lakukan dalam mengisi hidup kita yang sebentar ini, mencintai. Ya, mencintai Allah dengan segenap hati membuat langkah kaki kita lebih ringan. Segala sesuatu tidak lagi dilihat dari sisi duniawi. Apa yang kita lakukan untuk diri kita sendiri dan orang lain menjadi ladang amal yang indah.

Mengingat usia membuat kita semakin arif dan bijaksana. Meringankan pikiran dari syak wasangka, su’udzon, dan ketakutan dari segala hal yang tidak penting. Meringankan hati dari iri, dengki dan ketidakpuasan.  Menyederhanakan diri dari nafsu dan keinginan yang membelenggu. Keinginan akan kepuasan yang tak pernah henti . Ikhlas, tenang dan senantiasa bahagia. Itulah yang ingin kita capai dalam hidup ini. Semoga Allah mengaruniakan khusnul Khotimah kepada kita, Aamiin.

 

Related Post


Zuhudnya Sang Singa Padang Pasir
Zuhudnya Sang Singa Padang Pasir

  Suatu hari Hafshah binti Umar datang menemui Umar bin…

Bangga menjadi Ibu Rumah Tangga
Bangga menjadi Ibu Rumah Tangga

Saya ingat ketika saya berkata kepada suami saya dengan air…

Efek Gombalisasi (catatan kecil tentang PKN)
Efek Gombalisasi (catatan kecil tentang PKN)

Hari ini Rame tentang PKN (Kalau belum mengerti apa itu…

Wanita yang do’anya Tembus ke Arsynya Allah
Wanita yang do’anya Tembus ke Arsynya Allah

Dikisahkan Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a sedang berjalan bersama…





Add Comment


Your email address will not be published. Required fields are marked *