Home  /  celoteh ummi  / Bukan Sekedar Masakan …

Bukan Sekedar Masakan …


Bukan Sekedar Masakan …

Bukan Sekedar Masakan

Sepulang kerja Babeh kelaperan, “Siapin makan dong. Dari siang belum makan nih.”

Dengan penuh rasa cinta, emak menyiapkan gulai ayam yang barusan dihangatkan.

Dan Babeh menyuap makannya dengan lahap. “Enak nih. Beli dimana?”

Emak manyun, “Emak yang masak dong, Beh. Kaga percaya amat sih.”
Babeh nyengir, “Gi    tu dong. Masak yang bener.”

Beginilah keseharian setiap ibu. Harus kreatif. Bukan kere dan aktif yak.

Menjadi ibu yang aktif itu susah-susah gampang. Terkadang karena pekerjaan yang begitu banyak, masak dialihkan ke membeli lauk matang. Praktis dan efisien.

Untuk beberapa waktu, membeli lauk matang mungkin bisa menolong kerja ibu. Namun kalau keseringan keluarga bisa jenuh juga lho. Selain itu bikin kantong bocor terus alias boros.

Suatu hari seorang teman bertanya dengan nada sedikit mengkritik anggapan bahwa memasak adalah jihad seorang istri dan ibu. Ini dikarenakan baginya memasak itu merepotkan sehingga ia membayar tukang masak yang rasa masakannya sesuai dengan selera suami.

Apa yang dia lakukan sah-sah saja, selama ada permakluman dari suami dan anak-anak. Hanya saja jangan sampai menafikan apa yang diusahakan seorang ibu tidak bernilai apa-apa.

Rasulullah saw bersabda, “Makanan yang disediakan oleh istri untuk suaminya adalah lebih baik dari istri itu pergi haji dan umrah.” (HR. Anas bin Malik)

Babeh pernah berkata jika masakan seorang ibu itu menghangatkan hati keluarganya. Menggambarkan sikap ibu yang luwes dan menyenangkan.

Sebenarnya tidak melulu harus masakan yang mahal. Terkadang makanan sederhana juga mampu menghangatkan suasana. Ya semangkuk tumis kangkung dan ikan goreng mampu membuat  keluarga makan dengan lahap.

Anak-anak seperti apapun masakan ibunya pasti akan selalu bilang, “Masakan ibuku yang paling enak seluruh dunia.”

Seorang teman pernah dibuat bingung oleh ulah anaknya. Anaknya susah sekali makan. Dia.sudah menyuruh asisten rumah tangganya untuk memasak makanan yang lezat untuk anaknya. Tetap saja makanan tidak dimakannya.

Hingga suatu hari asisten rumah tangganya pulang kampung. Dia pun menyiasati dengan membeli lauk makan untuk keluarganya. Anaknya pun tidak mau makan. Meski sudah dibelikan makanan yang lezat dan mahal.

Setengah putus asa karena anak tidak mau makan dan ART belum balik ke rumah, ia pun memasak. Selama ini ia belum mahir memasak. Hari itu ia memutuskan memasak sayur bayam dan dadar telor karena masakan yang dianggapnya mudah.

Keajaiban datang, anaknya memakan habis makanan yang ia sediakan. Setelah makan anaknya berujar, “Masakan mama enak sekali.”

Teman saya terharu dengan kejadian itu. Ia baru menyadari jika anaknya hanya mau makan masakannya meski sekedar sayur bayam dan dadar telor.

Dari kejadian itu kita bisa memetik hikmah, jika makanan yang dimasak seorang ibu tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik keluarganya semata. Lebih dalam lagi, masakan ibu memenuhi kebutuhan jiwanya. Happy cooking, Mom.

Related Post


No related post available





Add Comment


Your email address will not be published. Required fields are marked *