Home  /  Tentang kita  / Kesabaran Ummul Mukminin Yang terbakar fitnah (Sebuah Pelajaran Kehidupan)

Kesabaran Ummul Mukminin Yang terbakar fitnah (Sebuah Pelajaran Kehidupan)


Kesabaran Ummul Mukminin Yang terbakar fitnah (Sebuah Pelajaran Kehidupan)

ketika aisyah di fitnah

 

Berita bohong itu dihembuskan oleh Abdullah bin Ubay bin Salul bersama golongan orang-orang yang menggunakan kedok Islam untuk melakukan konspirasi terhadap Islam secara diam-diam. Allah menyingkap kejahatan mereka terhadap rumah tangga Rasulullah dan Aisyah yang mulia dan suci. Yang mencoreng kehormatan Rasulullah dan kehormatan sahabatnya Abu Bakar Ash-Shidiq, seorang yang paling mulia di hadapan Rasulullah, serta kehormatan seorang sahabat lainnya, Shafwan bin Mu”aththal.

Imam Al-Bukhari mengatakan dalam Shahihnya; Abu Rabi’ Sulaiman bin Daud menceritakan kepada kami bahwa telah berkata kepada kami Fulaij bin Sulaiman dari Ibnu Syihab Az-Zuhri dari Urwah bin Zubair dan Said bin Mussayib dan Alqomah bin Waqqash Al-Laitsi dan Abdullah bin Abdullah bin Utbah dari Aisyah istri Rasulullah tatkala pelaku-pelaku kabar bohong itu mengatakan apa yang mereka katakan, dan Allah membersihkan Aisyah dari semua berita bohong itu.

Awal Fitnah itu

Peristiwa ini berawal saat Aisyah ikut dalam perjalanan Rasulullah berperang dengan Bani Musthaliq. Sekembalinya dari peperangan  di sebuah tempat dekat Madinah pasukan Rasulullah berhenti. Aisyah keluar dari tandunya untuk membuang hajat. Setelah selesai dia kembali ke pasukan muslimin. Saat itu ia menyadari jika kalungnya terlepas dan ia pun kembali ke tempat ia buang hajat untuk mencari kalung tersebut.

Pasukan Muslimin tidak menyadari kepergian Aisyah. Mereka melanjutkan perjalanan dengan membawa tandu yang kosong. Mereka fikir Aisyah telah masuk ke dalam tandunya.  Saat mereka pergi, Aisyah baru menemukan kalungnya.  Aisyah pun berfikir pasukan muslimin akan menyadari jika ia tidak bersama mereka dan akan segera kembali. Aisyah menunggu di tempat semula dan tertidur.

Pada saat Aisyah tertidur Shafwan bin Mu’aththal Al-Sulami yang berada di belakang pasukan Islam, melihat dirinya. Shafwan mengucapkan kalimat Istirja’ dan Aisyah pun terbangun.  Shafwan menyuruh Aisyah untuk menunggangi ontanya sementara Shafwan menuntunnya. Mereka pun berangkat menyusul pasukan Muslimin dan bertemu dengan pasukan itu di malam hari di Nahruz Zhahirah.

Mulailah Abdullah bin Ubay menghembuskan berita bohong itu. Kebohongan itu semakain jadi tatkala aisyah jatuh sakit selama sebulan. Orang-orang bergosip tentang keadaan Aisyah. Mereka melancarkan tuduhan jika sakit yang diderita Aisyah bukan sakit biasa. selama itu pula Aisyah tidak mendapatkan kelembutan yang biasa Rasulullah berikan untuknya. Setiap kali berkunjung Rasulullah hanya masuk ke dalam rumah, memberi salam dan bertanya, “Bagaimana keadaanmu?” Aisyah merasakan kejanggalan tapi belum tahu desas-desus tentang dirinya.

“Saya tidak merasakan apa-apa hingga saya sembuh. Maka saya oun keluar bersama Ummu Misthah ke jamban untuk membuang air karena kami tidak bisa keluar kecuali dari malam ke malam. Itu dilakukan sebelum kami menjadikan jamban dekat dengan rumah kami. Keadaan kami layaknya keadaaan orang-orang Arab pertama yang biasa buang air di tanah terbuka. Maka saya dan Ummu Misthah binti Abi Rahm keluar rumah dan saat itulah dia terpeleset karena tersangkut kainnya. Maka dia pun berkata, “Celakalah Misthah!” Aku berkata, “Sungguh jelek apa yang engkau ucapkan! Apakah pantas bagimu mencerca seorang yang pernah ikut terjun dalam perang badar?” Maka dia pun berkata, “Tidakkah engkau mendengar apa yang mereka bicarakan?” maka dia pun bercerita kepadaku tentang ucapan orang-orang penebar berita bohong.”

Seketika Aisyah terhenyak. Maka bertambahlah rasa sakitnya karena kesedihan yang mendalam. Ia berfikir karena ini, Rasulullah bersikap lain padanya. Ketika Rasulullah datang dan bertanya tentang keadaannya, Aisyah malah meminta izin untuk pulang ke rumah orang tuanya.

Sesampainya di rumah orang tuanya, ibunda Aisyah menasehatinya, “Wahai Ananda, tenanglah menghadapi masalah ini. Sesungguhnya sangat sedikit seorang perempuan cantik rupawan yang berada di sini seorang lelaki yang mencintainya, dan ia memiliki istri-istri lain kecuali mereka akan banyak membicarakannya.” Aisyah menangis hingga pagi hari.

Rasulullah menunggu petunjuk Allah tentang prahara rumah tangganya. Namun ayat Allah belum jua datang. Beliau pun memanggil Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid untuk bertanya tentang perceraian dengan istrinya. Usamah menasehati Rasulullah tentang kecintaan Beliau pada istri-istrinya dan tidak ada satu keburukan pun pada mereka. Ali bin Abi Thalib menganjurkan Rasulullah untuk bertanya pada Barirah, pelayannya yang jujur. Barirah mengatakan hal baik tentang Aisyah.  Rasulullah pun bangkit dan meminta orang-orang untuk menjatuhkan hukuman pada Abdullah bin Ubay. Rasulullah bersabda, “Siapa yang akan membantuku menghabisi seseorang yang telah menyakitiku melalui keluargaku. Demi Allah, sesungguhnya aku tidak mendapatkan keluargaku kecuali senantiasa baik-baik saja. Mereka telah memfitnah seorang lelaki yang tidak aku ketahui kecuali bahwa dia seorang yang baik dan dia tidak pernah masuk ke rumahku kecuali bersamaku.”Abdullah bin Ubay dilindungi oleh kaumnya, banu Khazraj. Hampir terjadi pertempuran antara Bani Aus dengan Bani Khazraj. Rasulullah pun turun dari mimbar dan meredakan pertengkaran itu.

Ketika Kesabaran itu diuji

Aisyah menangis selama dua malam dan satu hari. Kedua orang tuanya menemaninya. Seorang wanita Anshor datang menemuinya dan ikut duduk menangis bersamanya. Kemudian datanglah Rasulullah ke rumah Aisyah dan segera duduk. Selama berita bohong itu menyebar, Rasulullah tidak pernah duduk bersama Aisyah.  Rasulullah berkata, “Aisyah, sesungguhnya telah sampai padaku berita mengenaimu demikian … demikian…. Jika kamu bersih, maka Allah akan membersihkanmu. Dan jika kamu melakukan dosa maka mintalah ampunan kepada Allah dan bertaubatlah kepada-Nya, karena sesungguhnya seorang hamba jika dia mengakui dosanya kemudian dia bertaubat maka Allah akan memberikan Taubat-Nya.”

Air mata Aisyah telah kering. Demi Allah, betapa kagetnya dia. Nabi yang ia imani dan suami yang sangat ia cintai berkata seperti itu padanya. Ia tidak menyangka Rasulullah meragukan kejujuran dan kesuciannya. Aisyah enggan menjawab perkataan Rasulullah. Ia meminta ayah dan ibunya untuk menjawabnya. Dengan perasaan yang getir keduanya tidak tahu harus berkata apa pada Rasulullah. Akhirnya Aisyah pun mengeluarkan suaranya, “Demi Allah, aku telah tahu jika kalian telah mendengar apa-apa yang orang-orang bicarakan tentang aku dan hal itu tertanam dalam diri kalian serta kalian membenarkannya.  Andaikata aku katakan pada kalian bahwa diriku itu bersih dan suci –Allah tahu bahwa aku bersih- kalian pasti tidak akan percaya terhadap apa yang aku katakan. Dan jika aku mengakui apa yang kalian katakan – padahal Allah SWT tahu bahwa aku adalah bersih dan suci- maka kalian pasti membenarkan apa yang saya katakan. Maka tidak ada yang lebih pantas dijadikan hujjah kecuali perkataan Yusuf

“Maka kesabaran yang baik Itulah (kesabaranku). dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS. Yusuf [12]:18)

Aisyah membawa kepedihannya dan berbaring di atas tempat tidurnya. Ia berharap Allah segera membersihkannya dari tuduhan yang keji itu. Pada saat itu terjadi perubahan pada diri Rasulullah. Beliau mengeluarkan keringat seperti mutiara di musim dingin. Setelah itu beliau tertawa dan berseru, “Wahai Aisyah, Pujilah Allah karena sesungguhnya Dia telah membersihkan dirimu dari tuduhan itu!”

Ibunda Aisyah meminta Aisyah untuk menghampiri Rasulullah. Namun hati Aisyah masih dipenuhi dengan rasa kesal pada Rasulullah dan berkata, “Tidak! Demi Allah, saya tidak akan berdiri padanya dan tidak memuji kecuali kepada Allah.”

Inilah dia Aisyah yang bersih dan suci. Aisyah, muslimah yang cerdas dan pandangannya jernih. Dia dituduh melakukan sesuatu yang keji dan mengkhianati Rasulullah, suaminya yang sangat dicintainya. Padahal dia adalah putri Abu Bakar Ash-Shidiq yang tumbuh dalam lingkungan yang mulia dan suci. Dalam tuduhan ini, dia tidak mendapatkan sesuatu yang dapat menyelamatkan dan membersihkannya kecuali penyelamatan dari Allah. Namun wahyu Allah lambat turun. Peristiwa itu berlangsung selama sebulan dan selama itu juga Aisyah terbakar fitnah.

Abu Bakar Ash-Shidiq, sosok yang santun dan perasa juga merasakan kepedihan karena kehormatannya, yaitu anak perempuan yang dicintainya diperlakukan sedemikian keji. Dia berkata, “Sesungguhnya kami belum pernah dituduh semacam ini pada masa jahiliyah! Apakah kita rela jika diperlakukan seperti ini saat kita berada dalam Islam.

Kesedihan tidak hanya meliputi Aisyah, Rasulullah pun mengalami hal itu. Sebagai manusia biasa, beliau juga merasakan derita yang dialami manusia jika menghadapi situasi yang sama. Tatkala kepedihan itu sampai pada puncaknya hingga beliau bertanya sendiri pada Aisyah dan Aisyah marah karena keraguan beliau, Allah segera menunjukan kelembutan-Nya. Wahyu pun turun membebaskan Aisyah dari tuduhan keji. Rumah tangga Rasulullah terbebas dari fitnah. Tersingkaplah niat orang-orang munafik yang telah menyebarkan kabar bohong itu. Wahyu Allah telah menggambarkan jalan lurus bagi kaum muslimin dalam menghadapi perkara besar ini, yaitu menyerahkan semuanya kepada Allah.

Peristiwa penyebaran kabar bohong dan fitnah ini merupakan peringatan berulang-ulang agar tidak sampai ada yang melakukan hal serupa. Allah memberikan peringatan keras terhadap orang-orang yang menuduh perem-perempuan yang terjaga dan suci dengan ancaman azab akhirat.

Islam mengatur adab dan sopan santun dalam menghadapi kondisi-kondisi seperti ini. Kondisi tersebarnya berita bohong dan hujatan terhadap sebagian kaum mukminin dan mukminat.

  1. Hendaknya selalu berbaik sangka kepada saudaranya sesama mukminin dan mukminat. Ketika ada berita yang menyedihkan atau mengandung hujatan terhadap saudara dan saudari mukminin, hendaklah segera mendustakannya dan mengatakan jika kabar itu tidak dibarengi dengan bukti-bukti nyata, maka berita itu adalah dusta.
  2. Senantiasa mencari tahu kabar yang sebenarnya mengenai masalah yang dihadapi oelh kaum mukminin dan senantiasa mencari keterangan dan dalil. Jangan membiarkan para pendusta dan pembohong mencemari kehormatan kaum mukminin dan mukminat.
  3. Senantiasa memperhatikan tingkatan pembicaraan itu dari semua dimensinya dan tentang kaitannya dengan siapa pembicaraan itu. Sebab, tidak semua perkataan itu ditanggapi dan tidak pada setiap berita kita melibatkan diri. Pada dasarnya seorang muslimin bukanlah penghujat, pelaknat bukan juga sosok yang keji dan durjana.
  4. Dalam penyebaran sebuah berita, ada beberapa dosa yang dikiranya dosa kecil, padahal dia adalah dosa besar dan menghancurkan.
  5. Amalan hati adalah amalan yang akan dimintai tanggung jawab. Cinta itu sumbernya adalah hati. Orang-orang yang cinta melakukan berita keji tentang orang beriman maka ancamannya adalah azab yang pedih di akhirat.

Wallahu’alam bi shawab. (MA/Portal.org)

Related Post


Mulia karena menjadi pembersih WC (True story)
Mulia karena menjadi pembersih WC (True story)

Ambil pelajaran dari kisah nyata saudara kita ini .... full…

Karena Abdi Negara Adalah Kemuliaan dalam Kesederhanaan
Karena Abdi Negara Adalah Kemuliaan dalam Kesederhanaan

Sekelumit Kehidupan di Perantauan tulisan dari Bu sylvie semoga kita…

Kebajikan Berantai
Kebajikan Berantai

Ini adalah sebuah kejutan buat saya ketika memeriksa tas ananda…

Terimakasih Guru hebatku ….
Terimakasih Guru hebatku ….

Kemarin lihat banyak status temen di Facebook , pada ngucapin…





Add Comment


Your email address will not be published. Required fields are marked *